Hari Pertama

Cuma 30km/jam aku kendarai motorku ke Paud (Pendidikan Anak Usia Dini) Lazuardi. Sebagian jalannya sudah beraspal, tapi semakin jauh, jalannya mengecil dan berbatu. Masih ada perasaan takut, canggung, risih, semuanya campur aduk, padahal ini bukan yang pertama kali aku ke sana. Tapi memang ini pertama kali aku mengajar, membantu anak-anak di sana menyelesaikan PR sekolah. Tidak berasalan memang, karena sejauh ini aku belum merasakan adanya penolakan dari mereka. Justru yang aku rasakan mereka sangat menerima kedatanganku, walaupun ada beberapa orang yang memang cuek terhadap kehadiranku.

Rasa canggung, karena lingkungan ini berbeda dengan lingkunganku, atau orang kebanyakan. Lingkungan ini terletak di samping rel kereta, dengan jalan berbatu yang hanya cukup untuk satu buah mobil, dan di kanan kirinya rumah-rumah bedeng dengan panjang mungkin cuma 1.5 meter dan lebar 4 meter. Sebagian punya surat tanah, tapi tidak sedikit merupakan rumah liar. Risih, kalau-kalau ada tatapan mata yang menyiratkan pertanyaan mendalam di raut wajah mereka yang menatapku. Perasaan takut, kalau-kalau mereka ga bisa terima keberadaanku yang berkulit putih dan bermata sipit di lingkungan mereka. Belum lagi, pastinya berbeda kebiasaan setiap minggunya, jika kebiasaanku pergi setiap hari Minggu pagi, sedangkan mereka setiap Jumat siang. Bagi masyarakat modern, harusnya ketakutan ini sungguh tidak beralasan. Tapi kenyataannya, berkat sisa-sisa pengelompokan jaman penjajahan dan orde baru, sampai saat ini masih menjadi topik yang paling sensitif di negeri ini. Aku yang bermodalkan niat yang tulus, tetap cuek saja.Menunggu hampir 30 menit di depan sepetak ruangan yang melompong, menambah kekhawatiranku. Ruangan itu hanya beralaskan tegel dan dinding yang baru dicat putih sebagian. Meski setiap beberapa saat harus balapan suara dengan suara kereta lewat, ruangan ini pun sudah cukup lumayan, karena ada seorang yang berbaik hati merelakan tanahnya untuk dipakai anak-anak sebagai tempat belajar. Sebelumnya mereka sudah beberapa kali tergusur dari tempat belajar dadakan.Kedatanganku kali ini sesungguhnya hanya untuk ngobrol dan mencari tahu sistem belajar yang sudah berjalan saat ini, supaya tidak terasa perbedaan yang berarti. Belum lagi ditambah aku yang belum pernah mengajar untuk umum. Tapi di luar dugaan, anak-anak yang datang sudah siap dengan buku-buku mereka. Aku yang masih belum sepenuh hati, dan menawarkan untuk satu minggu dua kali saja, justru mereka berharap tiga kali satu minggu belajar bersama.

Lalu tiba-tiba, Widya, siswi kelas satu SMP mengeluarkan LKS Bahasa Inggris dan bilang kalau dia ada PR dari sekolah. Manalah tega aku untuk menolak. Aku yang tadinya hanya mau mengajar 1.5 jam saja, dengan alasan takut mereka kecape’an, akhirnya sampai dua jam juga.Penghasilan tambahan? Tentu saja tidak. Ada kemungkinan justru akan mempertipis penghasilan. Disaat penghasilan saudaraku sudah mencapai delapan digit, aku masih saja tujuh digit, itu pun masih di awal. Tapi aku ga perduli, bukan pesimis atau malas. Aku yakin tak seorang pun yang menolak mendapat penghasilan berlimpah, juga aku. Tapi, bukankah semakin besar apa yang didapat, maka semakin besar pula tanggung jawab yang dipikul. Bagiku, ada perasaan yang tak terbayarkan dengan uang jika aku berada di lingkungan itu dan dapat membatu mereka.

Banyak bantuan berdatangan dari luar, USAID, PBB, CSF, dan sebagainya. Bukan terlalu naif, tapi apakah kita akan terus-menerus mengharapkan bantuan dari luar? Lalu kapan kita akan menjadi bangsa yang dewasa? 63 tahun bukanlah waktu yang singkat, tapi bangsa ini masih saja terlena dan berputar-putar mencari jati dirinya. Aku yakin, dengan dimulai sesuatu yang baik, maka proses akan berjalan dengan baik. Mungkin jaman sekarang tengah beralih menjadi serba instan, tapi itu tidak berlaku untuk semuanya. Proses kehamilan dapat diubah menjadi bayi tabung, tapi setelah lahir bayi tetap memerlukan proses mulai dari membalikkan tubuh, duduk, merangkak, hingga berjalan. Dan pendidikan sangat menghormati ’proses’. Aku rasa tidak perlu suatu rencana yang besar, yang muluk-muluk, tapi dapat dimulai dengan mengurangi ego masing-masing, mencoba untuk memahami orang lain, belajar untuk jujur terhadap diri sendiri dan sayangi alam. Aku yakin proses itu dapat berjalan dengan baik, dan semoga akan menuju akhir yang baik juga.

Tak pernah terpikirkan olehku, jika akhirnya aku dapat terlibat dengan semua ini. Tapi inilah hidup. Hidup harus memiliki rencana, tapi kita juga harus siap untuk merubah semua rencana itu setiap saat karena kehendak dan jalan-Nya.

 

                            

Haruskah Menyerah?

Siapakah yang dapat menolak setiap keindahan?
Siapakah yang dapat menolak setiap kenikmatan?
Semua kenikmatan yang ada di dunia ini,
sungguh sangat menggoda

Tapi bukankah manusia makhluk ciptaanNya yang paling mulia?
Tidak cukup kuatkah kita menahan setiap godaan?
Haruskah menyerah?

Pantaskah,
Mengorbankan apa yang sudah diraih
untuk kenikmatan sesaat?
Bukankah setiap godaan takkan melebihi kekuatan manusia?
Mengapa lebih memilih masuk dalam lingkaran godaan
Bukan mengikuti Dia yang mencipta?

Tapi bukankah manusia makhluk ciptaanNya yang paling mulia?
Mengapa memilih masuk dalam lingkaran godaan
Haruskah menyerah?

Satu Masa

Jika ada satu masa bagiku tuk kembali
Tak kan aku ubah apa pun
Karna aku percaya,
Semua yang tlah kulalui adalah kehendakNya

Jika ada satu masa bagiku untuk kembali
Aku hanya ingin kembali
Saat aku berbaring di sisinya
Merasakan lembut belaiannya
Merasakan hangat cinta dalam pelukannya

Kuharap waktu sudi tuk berhenti walau sekedip
Kan kunikmati setiap detik yang berlalu
Tak kan aku berpaling darinya

Tak perduli apa yang kan terjadi
Tak perlu kata-kata
Semua sudah terbayarkan
Saat dia memelukku
Melepas segala rindu yang tertahan

Hidup Hanya Satu Kali

Hidup hanya satu kali
Some people said,
Nikmati saja, jangan sia-siakan
Some people said,
Kejar mimpimu, raih semua yang kau mau

Namun bila sang waktu seketika datang,
Relakah kau meninggalkan semuanya?
Masih kah semua itu berarti dan diperhitungkan?

Hidup hanya satu kali
Wise man said,
Cintai dan sayangi atas semua yang kau miliki,
Bersyukurlah senantiasa,
Dan bila waktumu menghampiri,
Percaya bahwa kau '

kan

bahagia selamanya

You Are The Only One

You always there at my happy and sad
Always hold me and protect me from harm
Give me the strength and makes me stronger

We share every single thing in our life
Build our dreams,
And together we make it come true

No more me, no more you
Cause you and me become us
I will give all my love to you

Your face will be the last thing I see before I close my eyes
And the first thing I see when the morning come to us

Thank you Lord,
Cause I have him at my side
He is the best gift in my life
I will always at his side for a rest of my life

You are the only one,
who always be with me forever

Dengan Logika

Pernah, aku melupakan logika
Pernah, kuberikan cinta
Pernah, aku terbuai kata-kata

Pernah kau jadi awan
Yang selalu melindungiku dari teriknya matahari
Pernah kau jadi bulan
Yang slalu melindungiku dari gelap malam
Pernah kau jadi bintang kebanggaanku
Tapi kau adalah angin untuk selamanya
Yang slalu datang dan menghapus sgala gundah
Lalu  kau pergi dan memilih tuk menghilang
 
Harus kuakui tak mudah
Kucoba mengerti, kucoba pahami
Bagai kapal di tengah lautan,
Saujana...
Tak dapat kulihat biduk di seberang
Hanya bayang yang ku kejar
Hanya angin yang kuraih

Bagai kertas terkikis penghapus tinta,
Sungguh perih
Hanya dengan logika aku dapat menghapus kenangan kita
Hanya dengan logika aku dapat terus melangkah

Cukup sudah kuikuti perasaan ini
Cukup sudah percayaku padamu
Jangan pernah kau kembali
Jangan pernah ganggu aku lagi
Jalanilah jalan yang kau pilih
Karna aku pun kan lalui jalanku tanpamu

Dengan logika kan kuhapus semua tentangmu, tentang kita
Dengan logika aku akan terus melangkah

Kepastian

Adakah kau cinta aku?
Apa yang kau cari?
Itu yang selalu kau tanya

Aku sangat mencintaimu
Percayalah, jika hatiku tak kan berubah

Itu yang selalu kau bilang

T'lah kutemukan yang aku cari
T'lah kuarahkan jalanku
T'lah kuberikan hatiku
Tapi kau memilih 'tuk menjauh

Detikku tak kan berhenti
Waktuku takkan pernah mau menunggu
Tanyakan hatimu,
Adakah kau sungguh cinta aku?

Tak kan kuminta bintang di langit
Tak perlu gunung kau daki bagiku
Tak kan kuminta sebrangi lautan
Hanya kepastianmu yang ku mau
Kepastian, bahwa semua yang kita lalui takkan sia-sia
Kepastian, bahwa kau akan selalu ada di sisi

Tanyakan hatimu
Adakah kau sungguh cinta aku?
Yang kuminta hanyalah kepastianmu
Karna detikku tak kan berhenti berjalan,
Dan waktuku tak kan pernah mau menunggu

Mimpi

Kukira semua ini tak kan sia-sia
Kukira kaulah masa depanku
Kau selalu bilang kau sungguh cinta
Kita akan berjalan bersama
Tapi mengapa di saat aku jatuh
Kau memilih tuk pergi
 

Bak Jupiter yang menidurkan Endymion di Gunung Latmos,
kau bangun mimpi kita,
tak pernah kau sadarkan aku, hingga aku terlena
 

Tidakkah kau tau,
Setiap Luna menghampiri aku
Saat itu mimpi kita hadir
Saat itu pula sang rasa datang tuk menyiksaku
 

Dan malam ini terasa tak berujung
Adakah ini khayalku atau sesungguhnya nyata?
Mengapa aku tak lagi dapat membedakan mereka?
Di mana cahaya pagi yang selalu menyadarkan aku?
Yang selalu membuat aku terjaga dari mimpi
 

Aurora, tolonglah aku
Hadirlah, sadarkan aku dari semua hayal ini
Jangan biarkan kehampaan mengisi hariku
Terangi setiap langkahku

Agar aku mampu berjalan lagi


3 Maret 2008

Bimbang

Saat keyakinan mulai goyah
Saat semua terasa sia-sia
Haruskah cinta dipertanyakan?
Benarkah cinta sedang dipertaruhkan?
Cintakah yang ada selama ini?
Atau yang ada hanya mimpi?


Mimpi itu telah lama ada di hadapan
Dapat kulihat masa depan
Tapi mengapa aku terdiam
Hanya terus kupandang dan kuimpikan
Bahkan tak sanggup untuk melangkah


Cintakah yang aku punya ini?
Atau hanya permainan yang kuciptakan sendiri
dan aku semakin terbuai,
terbuai selamanya

 

15 Feb 08

Bila

Bila engkau termangu,
Aku tahu,
Masalah bermain dalam pikirmu

Bila engkau terdiam,
Aku tahu,
Sedih menghampiri dirimu

Namun bila kau mengatakannya,
Sesungguhnya aku ga tahu,
Apa yang harus aku katakan dan lakukan

Tapi satu yang aku tau,
Meski tak terucapkan,
Tapi yakinlah,
Bahwa hatiku kan selalu ada ’tuk memberimu kekuatan

Aku akan memelukmu dengan sayangku,
Memberimu hangatnya cintaku,
Menitipkan jiwaku ’tuk temani melewati hari-harimu.

1 Desember 2007