Hari Pertama
Cuma 30km/jam aku kendarai motorku ke Paud (Pendidikan Anak Usia Dini) Lazuardi. Sebagian jalannya sudah beraspal, tapi semakin jauh, jalannya mengecil dan berbatu. Masih ada perasaan takut, canggung, risih, semuanya campur aduk, padahal ini bukan yang pertama kali aku ke sana. Tapi memang ini pertama kali aku mengajar, membantu anak-anak di sana menyelesaikan PR sekolah. Tidak berasalan memang, karena sejauh ini aku belum merasakan adanya penolakan dari mereka. Justru yang aku rasakan mereka sangat menerima kedatanganku, walaupun ada beberapa orang yang memang cuek terhadap kehadiranku.
Rasa canggung, karena lingkungan ini berbeda dengan lingkunganku, atau
orang kebanyakan. Lingkungan ini terletak di samping rel kereta, dengan
jalan berbatu yang hanya cukup untuk
satu buah mobil, dan di kanan kirinya rumah-rumah bedeng dengan panjang mungkin
cuma 1.5 meter dan lebar 4 meter. Sebagian punya surat tanah, tapi tidak sedikit merupakan rumah liar. Risih, kalau-kalau ada tatapan mata yang
menyiratkan pertanyaan mendalam di raut wajah mereka yang menatapku. Perasaan
takut, kalau-kalau mereka ga bisa terima keberadaanku yang berkulit putih dan
bermata sipit di lingkungan mereka. Belum lagi, pastinya berbeda kebiasaan
setiap minggunya, jika kebiasaanku pergi setiap hari Minggu pagi, sedangkan mereka
setiap Jumat siang. Bagi masyarakat modern, harusnya ketakutan ini sungguh
tidak beralasan. Tapi kenyataannya, berkat sisa-sisa pengelompokan jaman
penjajahan dan orde baru, sampai saat ini masih menjadi topik yang paling
sensitif di negeri ini. Aku yang bermodalkan niat yang tulus, tetap cuek saja.
Banyak bantuan berdatangan dari luar, USAID, PBB, CSF, dan sebagainya.
Bukan terlalu naif, tapi apakah kita akan terus-menerus mengharapkan bantuan
dari luar? Lalu kapan kita akan menjadi bangsa yang dewasa? 63 tahun bukanlah
waktu yang singkat, tapi bangsa ini masih saja terlena dan berputar-putar
mencari jati dirinya. Aku yakin, dengan dimulai sesuatu yang baik, maka proses
akan berjalan dengan baik. Mungkin jaman sekarang tengah beralih menjadi serba
instan, tapi itu tidak berlaku untuk semuanya. Proses kehamilan dapat diubah
menjadi bayi tabung, tapi setelah lahir bayi tetap memerlukan proses mulai dari
membalikkan tubuh, duduk, merangkak, hingga berjalan. Dan pendidikan sangat
menghormati ’proses’. Aku rasa tidak perlu suatu rencana yang besar, yang
muluk-muluk, tapi dapat dimulai dengan mengurangi ego masing-masing, mencoba
untuk memahami orang lain, belajar untuk jujur terhadap diri sendiri dan
sayangi alam. Aku yakin proses itu dapat berjalan dengan baik, dan semoga akan
menuju akhir yang baik juga.
Tak pernah terpikirkan olehku, jika akhirnya aku dapat terlibat dengan
semua ini. Tapi inilah hidup. Hidup harus memiliki rencana, tapi kita juga
harus siap untuk merubah semua rencana itu setiap saat karena kehendak dan
jalan-Nya.
